Rabu, 09 September 2015
ANTARA PERSAHABATAN & CINTA
Karya :“ D’aNgeL oF RizVia ”
SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan
syahdu, tiba-tiba pecah oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah
terbuka lebar untuk siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak
saling berebutan menuju halaman sekolah.
Di halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan
Qory sedang menunggu sahabat2 mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi,
Marvel, dan Nuri. Setelah kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke
rumah bersama-sama. Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah,
istirahat di kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena
mereka semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena
Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel adalah
mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin persahabatan dengan
keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang dan mungkin untuk selamanya.
Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat
masalah dengan pacarnya yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah
menghubungi Livia lagi, dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia
berpikir bahwa Arinal sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia
meminta pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi
mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan mencari
cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal mereka tidak pernah
menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga Livia meminta pendapat pada
sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan Romi, tetapi jawaban mereka sama
saja, Livia bingung dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.
Tetapi Arsya selalu menghiburnya, dia selalu memberikan motivasi kepada Livia,
hingga sedikit demi sedikit hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab,
dan kini Arsya lah yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia.
Dan lambat laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.
Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara
Livia dengan Arsya, awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan
Livia sudah meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia
nekat membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama Vina
agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada suatu sore
setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta pada Livia untuk
menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu hujan deras, tapi Livia
tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup, disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah
kejadian itu, hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula, hingga
pada suatu hari, kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina
itu adalah Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya
agar bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah
pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta maaf pada
Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia membiarkan Arsya
melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia dan berhenti menghubungi
Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih tetap belum memaafkan Livia, dan
pada suatu malam, Livia merenung sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai
saat itu Arsya belum juga memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat
apa-apa lagi selain menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa
tersadar dia menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a
kepada tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari
Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms itu,
Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh
Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya lewat sms, tetapi
Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan membalasnya, dan dia takut
Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus mendesaknya. Akhirnya Livia
memberanikan diri untuk menghubungi Arsya kembali, dan tidak disangka, Arsya
membalas sms Livia, dan pada malam itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan
pada saat itulah Livia tahu bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk
menghubunginya dengan berpura2 menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin
tahu dan mengenal siapa Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan
sifat dalam Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia
punya perasaan dengan sahabatnya, Arsya.
Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir
semester, Arsya pulang ke kota asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan
Livia berjauhan, tetapi mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari
Livia menyatakan perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai
jatuh cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia
tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya begitu
kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak disangka bahwa
Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka tidak bisa bersatu,
karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya, mereka berdua sama2 sudah
mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu akan hal itu, akhirnya Arsya
terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin cinta dengan Livia tanpa status, dan
tetap menjalani hubungan dengan kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya
karena sudah tidak ada cara lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua
sendiri tidak bisa mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi
pada A’yun dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada
A’yun, tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu
selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi menjalin
hubungan.
Yah, cinta yang berawal dari sebuah
persahabatan. Dan hari-hari baru pun mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2
mereka pun sudah mengetahui semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan
mereka mendukungnya.
Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg
Arsya, hubungan Livia dan Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin
renggang, dan Livia pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh
ketiga sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan
hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak ingin
Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya di
tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada keputusannya.
Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya bahwa keputusannya itu
bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya dalam hidupnya, melainkan
karena Livia memang sudah tidak lagi mencintai Arinal lagi, dan dia sudah
terlanjur sakit hati karenanya. Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima
keputusan Livia dan sejak itu, status Livia menjadi single kembali.
Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat
masalah yang sama dengan kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah
jalan, dikarenakan Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul,
dia sangat sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus
bagaimana, dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya,
dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada lagi yang
memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya, tapi di lain hati
dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul karenanya, Livia tak
sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan seperti itu, Livia pun
bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa menghibur Arsya lewat sms, karena
saat itu Arsya tak lagi bersamanya, Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali
dan berhari-hari Livia terus menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu
melupakan Sella begitu juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu
bagi Arsya untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu
sejak tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun
semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih belum
bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa pasrah menerima
keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu memaksa Arsya untuk
menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November 2010, Livia, Arsya, Fian dan
semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun di rumahnya. 2 hari sebelum hari H,
Livia dan sahabatnya yang lain merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan
pada A’yun, dan ternyata kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari
yang sangat membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga
sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang sangat
membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan mereka
semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia, dari hari ke
hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan romantic, begitu juga dengan
Livia.
Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan
lama, mulai memasuki bulan Januari 2011, hubungan mereka pun renggang
dikarenakan Livia mendengar kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan
pacarnya, yaitu Sella. Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya
pernah berduaan dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika
kelas bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya
keheranan.
“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar..
padahal kan kamu tadi bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh,
liat aja sendiri, ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal.
Lalu Bella pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir
mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah, bukan
tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi. Saat sampai di
rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia malah menampakkan wajah
kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran dan bertanya pada Livia.
“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya
Arsya.
“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia
kesal.
“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??”
Tanya Arsya bingung.
“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan
kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia
marah.
“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu
aja koq marah sich..” Kata Arsya.
“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah
coba,! Aku pikir kamu udah bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah
berduaan, di depan kelas aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin
marah.
“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan
ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.
“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama
kamu..!!” Kata Livia berlalu.
”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah
minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.
“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan
di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya
membalas. “Nah, sekarang senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata
Arsya lagi sambil mencubit pipi Livia.
“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum
senang.
Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun
kembali normal. Dan dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua
saling menyayangi, dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa
terpisahkan. Dan mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya.
Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran
kembali antara Livia dan Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia
kembali berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu
melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera meminta
maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau memaafkan
Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya, Livia sedih dan
meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata bahwa dia tidak akan berhubungan
lagi dengan Marvel, tak akan membalas sms Marvel lagi, dan bahkan akan
menghapus nomer Marvel dari kontak HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia
itu, Arsya pun akhirnya mau memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language
Progress Program) di sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk
menyelesaikan tugas terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada
disana. Tetapi kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy
sudah sejak awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi
Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya tadi saat
di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya, sekaligus meminta do’a
agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di rumah dan agar lancar dalam
menjalankan tugasnya saat disana. Setelah itu mereka melanjutkan SMS_annya,
saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa dalam bis itu dia sangat kedinginan,
sedangkan sweaternya ada di dalam tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena
sweater itu ada di dasar tas, Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia
dengan menyuruhnya untuk mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi
Livia agar tidak kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya
selalu memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak
lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di
Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa
gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur untuk
Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan oleh-oleh berupa
bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia pun sampai di rumah
kembali pada pagi harinya.
Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada
tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes
Penerimaan Siswa Unggulan Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia
menyempatkan untuk berpamitan dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus
do’a untuknya, begitu juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan
dan do’a kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat
pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun tidak
lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat SMS_an itu,
Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia sangat sedih, lalu
Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak semuanya yang kita inginkan
bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan proses, Arsya mengakui bahwa Livia
adalah cewek yang pintar dan cerdas, dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang
lainnya pasti bisa diterima pada tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga
bisa mempunyai cewek seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang
itu adalah tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia
menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada Arsya
karena sudah memberinya dukungan dan semangat.
Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya
bersama dengan Arsya, A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya
tepatnya tanggal 21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia
habis2an, saat malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak
membalasnya, setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia
telat, Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu
tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga, A’yun sms
Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya karena siang tadi
Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang A’yun bertengkar dengan
Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar Livia mau membantunya
membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun bingung harus bagaimana,
karena saat itu Livia juga sedang bermasalah dengan Arsya. Keesokan paginya,
Livia bertemu dengan A’yun di sekolah, A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan
Arsya kemarin, Akhirnya Livia berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya
ngerjain Livia lagi, sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya,
Livia berkata pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya
meminta nomer A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah
mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya melarang
Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya meminta Livia untuk
tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa menyetujuinya. Pada pukul 12.00
malam tepat, Hp Livia berdering, seseorang menelponnya, dia memakai privat
number, Livia pun mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya
mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya bercerita
bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari sandiwara mereka
untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga berkata bahwa dia menelponnya
karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan met ultah ke Livia.
Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia,
Ana, Bella, dan teman2 lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia
mengadakan latihan di rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana
menyiram Livia dengan air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat
terkejut, tapi Livia tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya
sampai di kamar mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu
ada Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan
kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian pacarnya,
Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan meminta Ana untuk
menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali turun memanggil Livia dan
mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana mengajak Livia untuk membicarakan
sesuatu tentang kelompok dancenya di luar, tiba2 dari belakang Arsya
menyiramnya, disusul dengan siraman dari A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella,
Livia sangat terkejut juga bahagia, setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya
datang di hadapan Livia dengan membawa sebuah kado di tangannya. Arsya
mengucapkan met ultah sekali lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut
padanya, dan Arsya menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah
sebuah jam tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan
Arsya meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia
menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan Livia,
tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun dan Fian yang
memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1 boneka teddy kecil dan
gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah pulang, Marvel , mantan pacar Livia
datang untuk mengucapkan met ultah pada Livia. Setelah agak lama mengobrol,
akhirnya Marvel pun pulang. Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia
sangat bahagia karena bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia
sangat bahagia ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi
dan berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya selalu
bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang sangat
membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.
Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan
Arsya juga semua sahabat2nya mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9
April, Livia mengajak Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya,
pada pukul 10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu
untuk Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan
nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya, setelah
itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan kuenya, tetapi Arsya
malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut pada Livia dan menyuapinya,
setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk balik menyuapinya, Livia sangat
bahagia, begitu juga Arsya yang merasa bahagia dengan adanya surprise dari
Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian datang dan langsung melempar tepung yang
ada di genggamannya pada Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun
melemparkan tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama
belepotan karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh
dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan tangannya,
membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia pun mengusapkan
tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung. Setelah selesai membersihkan
wajah masing-masing, Arsya menggenggam tangan Livia dan berterima kasih pada
Livia karena telah memberikan surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia
sangat bahagia sekali hari itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga
membuat Livia tersipu malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada
Livia untuk pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir
untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan Arsya
juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah asalnya, dan akhirnya
Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima kasih pada Livia dan mencium
pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa bahagia. Tepat di hari perginya
Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya Fian untuk menemani dia mengantar
kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia
sakit keras dan Livia diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena
Livia tidak ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin
pada kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut
mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya Arsya
tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta mengantarnya karena dia
takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya saat di jalan nanti, tetapi Fian
tetap bersikeras untuk mengajak Livia dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi
apapun pada Livia dan dia juga berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan
nanti, dan akhirnya Arsya pun menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di
stasiun, Arsya pun mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia
pergi. Dia berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada
Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun, dan akan
selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai saatnya Arsya
kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan melakukan semua yang diminta
oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi
dan kening Livia dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan setelah itu
Arsya pergi meninggalkan Livia dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya
masuk, Livia dan Fian pun pulang.
Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya
tanpa Arsya, tapi walaupun mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar,
saling sms_an, saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan
masing-masing. Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama,
sampai suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur
berkeping-keping.
Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari
Arsya yang tak kunjung membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan
tak hentinya memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya
yang berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang
sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini dan
tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap bahagia dan
mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa dirinya sudah
tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupannya, dan terakhir Livia
mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan
tangisan dan keputus-asaan, Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai
mengambil sebuah cutter yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi
sayangnya, Arsya tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin
menggores lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu
langsung mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi
Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal yang
buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke rumah Livia
untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar Livia, A’yun
menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun terkejut dan
menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun dengan Fian, dia
sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana. Lalu tanpa pikir panjang,
A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit
terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Livia pun dirawat dan dokter berkata
bahwa Livia kehilangan banyak darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah
dan sayangnya, persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian
terkejut, mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka
semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di
donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di
donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai kapan
Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan dokter pun
menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam. Mendengar pernyataan
dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi kabar padanya tentang
keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah berbicara panjang lebar, Fian
kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil, Arsya tidak bisa datang saat itu
juga karena sibuk, dan meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menolong
Livia. Fian sangat kecewa dan sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun
menenangkannya dan mengajak Fian untuk tetap mencari donor darah untuk Livia.
Saat A’yun dan Fian sudah hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2
Marvel datang dan berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia
untuk mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan meminta
Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai dilakukan, dokter
berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik. Mereka bertiga pun
senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh, A’yun dan Fian juga
berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka juga Livia. Dan mereka pun
bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3 hari sudah Livia jalani hari-hari
buruknya di rumah sakit dan kini dia sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya
pada Livia apa yang terjadi padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter
tajam ke lengannya sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan
Arsya. Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia
menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena sms
Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan teman2nya
disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di rumah dan sms Livia
saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya, hingga saat Arsya pulang,
orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat sedih dengan sms Arsya, dia sedih
kenapa Arsya tidak bisa memahami keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia
baru saja melewati masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan
Livia, akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya
sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa dirinya
tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka, Livia pun tidak
setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama ini Livia tidak pernah
merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi padanya itu bukan semata-mata
karena Arsya, tetapi karena kesalahan dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf
pada Arsya karena telah membuat dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta
Arsya untuk menarik kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya
merubah hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin
sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa bersama
dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus berpisah. Arsya
bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya pun mohon diri pada
Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir sms, Arsya masih memberikan
kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah kejadian itu, Livia mencoba
menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat bersyukur karena Arsya masih mau
membalas sms nya, dan Arsya masih mau memaafkan Livia dan tetap mengizinkan
Livia untuk memanggilnya dengan sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia
dan Fian mengikuti rekreasi ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke
beberapa tempat, yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah
Wisata makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan
bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan sahabat2nya.
Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya karena saat itu dia
sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya menjawab sms itu dengan jawaban
yang tidak pernah diharapkan oleh Livia, di sms itu dia malah memarahi Livia
karena dia masih memanggil namanya dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada
Livia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan
meminta maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak
peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan
kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk membantu
Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk menghubungi Arsya
tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali tidak menggubris mereka.
Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian segera menghubungi A’yun untuk
datang menghibur Livia, tetapi semua itu juga sia-sia. Berkali-kali Livia
mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya benar-benar tidak memperhatikannya,
bahkan Livia sempat berpikir bahwa Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia
berpikir bahwa Arsya sudah memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia
semakin sedih, hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba
menghubungi Arsya kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu
Livia meminta maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat
selama ini, dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil
dengan sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah
diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan alasan kenapa
dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan sebutan “Maz” lagi, Arsya
hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka berdua hanya sebatas teman biasa
saja, dan tak bisa melanjutkannya lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau
menjawabnya, dia hanya diam saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk
Arsya, Livia berusaha untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya
tidak peduli dan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan
airmatanya, dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa
merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu. Sepeninggal
Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat matanya bengkak. Livia
sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung keputusan Arsya untuk
mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur mereka jalani dengan hati yang
tulus dan suci.
Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian
yang telah dia alami pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak
percaya dengan apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram
pada Arsya atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat
mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih hati
Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka benar2 geram pada
Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua itu pada Arsya. Fian dan
Marvel adalah orang yang pertama kali merasa kecewa dan marah pada Arsya,
karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia pernah memberikan kepercayaan seutuhnya
pada Arsya untuk selalu menjaga Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua
itu malah di salah gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel,
sebagai cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia
yang juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan
mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak menyakiti
hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk menghibur Livia
dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya, karena mereka
yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya itu demi kebahagiaan Livia juga.
Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat sahabat2nya dan mencoba untuk menerima
semua takdir yang telah diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti
kedatangan Arsya kembali.
2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya
telah kembali dan hal itu membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat
dengan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia
kembali bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah
hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu Romi
dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan acara
wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin menciptakan
lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu pula dengan Arsya,
tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal yang sudah terjadi antara
Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan tak mau memaksakan kehendak
Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap bersyukur karena pernah diberikan
kesempatan yang sangat tak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya untuk
bisa menciptakan kenangan manis itu berdua dengan Arsya.
Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan
semua sahabat2nya setelah acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan
acara, Livia sempat menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan
manis yang telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan.
Dan pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria
bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir kalinya
sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga sebaliknya. Tetapi hanya
1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat itu, tidak lain dan tidak bukan
adalah Arsya sendiri, padahal Fian, Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan
kesempatan pada Livia untuk foto bersama diri mereka secara bergantian, setelah
Arsya dibujuk rayu dan akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun
menyerah dan membiarkan Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia
menangis melepaskan kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan
selamat tinggal pada Arsya untuk selama-lamanya.
===== THE END =====
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar